Dulu Terdampak Bencana, Kini Kebun Anggur Duyu Jadi Ikon Agrowisata Palu

oleh -5 Dilihat
oleh
Screenshot2026 01 2915323
Kebun Anggur di Desa Duyu, Kota Palu, kini berkembang menjadi kawasan agrowisata favorit berkat program Reforma Agraria melalui GTRA Kota Palu.

mediasulsel.id  – Palu – Kebun Anggur di Desa Duyu yang kini dikenal sebagai Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit menjelma menjadi salah satu kawasan agrowisata favorit warga Kota Palu. Transformasi ini menjadi bukti nyata keberhasilan pelaksanaan Reforma Agraria melalui Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Wilayah yang sebelumnya terdampak bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi pada 2018 tersebut kini bangkit sebagai sentra pertanian produktif berbasis hortikultura, khususnya budidaya anggur. Sejak program Reforma Agraria dijalankan pada 2021, kawasan ini mengalami perubahan signifikan, baik dari sisi tata kelola lahan, peningkatan produksi pertanian, hingga pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Pendekatan penataan aset dan akses yang diterapkan GTRA Kota Palu mendorong para penyintas bencana untuk kembali produktif. Lahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini diolah dengan sistem pertanian modern, sekaligus dikembangkan sebagai destinasi agrowisata yang ramai dikunjungi masyarakat.

Perencana Ahli Muda Dinas Pertanian Kota Palu sekaligus anggota GTRA Kota Palu, Sutikno Teguh Asparianto, mengaku bangga terlibat langsung dalam pengembangan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit. Menurutnya, dampak program sangat terasa, terutama dalam peningkatan pendapatan warga.

“Perkembangan dari segi pendapatan masyarakat di sini cukup menonjol. Jika melihat sejarahnya, mereka adalah penyintas bencana, namun sekarang sudah mampu bangkit dan mandiri secara ekonomi,” ujar Sutikno saat ditemui di Kebun Anggur Duyu.

Ia menjelaskan, GTRA Kota Palu dibentuk untuk mempercepat pelaksanaan Reforma Agraria secara terpadu dan terkoordinasi. Program ini melibatkan lintas sektor dengan koordinasi utama dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), serta dipimpin langsung oleh Wali Kota Palu sebagai ketua GTRA.

“Sejak 2021 kami tergabung dalam GTRA Kota Palu. Pak Wali Kota memberi arahan agar seluruh perangkat daerah mendukung program ini, sementara BPN bertindak sebagai koordinator. Dengan begitu, seluruh kegiatan bisa berjalan terarah dan tepat sasaran,” jelasnya.

Dampak positif program ini juga dirasakan oleh warga di luar kelompok tani inti. Ibrahim, salah seorang warga Desa Duyu, mengaku budidaya anggur menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya.

“Alhamdulillah, sekarang ada tambahan penghasilan selain dari warung. Kampung Duyu juga makin dikenal sebagai kampung anggur,” kata Ibrahim.

Ia menuturkan, dari sekitar 20 pohon anggur yang ditanam sejak tiga tahun lalu, dirinya mampu memanen hingga tiga kali dalam setahun. Setiap panen, ia memperoleh pendapatan sekitar Rp4 juta. Budidaya tersebut bermula dari inisiatif pribadi setelah melihat referensi dari media sosial dan mendapat bimbingan dari Ketua Petani Kampung Anggur Duyu Bangkit.

“Kami awalnya coba-coba. Ternyata hasilnya lumayan. Bibit awalnya juga dibantu oleh ketua kelompok,” tambahnya.

Keberhasilan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit menunjukkan bahwa sinergi lintas sektor melalui GTRA Kota Palu mampu mengubah kawasan terdampak bencana menjadi wilayah produktif dan berdaya saing. Melalui penataan lahan dan pemberdayaan masyarakat, Reforma Agraria terbukti tidak hanya menyelesaikan persoalan agraria, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.