mediasulsel.id – MAKASSAR – Pemerintah Kecamatan Bontoala menghimpun 215 usulan pembangunan dari warga dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang digelar di Hotel Golden Tulip, Jalan Sultan Hasanuddin, Rabu (21/1/2026).
Ratusan usulan tersebut berasal dari 12 kelurahan di Kecamatan Bontoala dan akan menjadi bahan penyusunan rencana pembangunan Kota Makassar untuk tahun anggaran 2027.
Total kebutuhan anggaran yang diajukan mencapai Rp9,5 miliar, dengan fokus utama pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat serta penguatan ekonomi warga di wilayah padat penduduk tersebut.
Camat Bontoala, Andi Akhmad Muhajir, menjelaskan terdapat empat prioritas pembangunan yang menjadi perhatian pemerintah kecamatan, yakni infrastruktur, pengelolaan sampah, pengembangan urban farming, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurutnya, pembenahan infrastruktur menjadi kebutuhan paling mendesak karena berkaitan langsung dengan aktivitas dan keselamatan masyarakat.
“Prioritas kami adalah perbaikan jalan lingkungan dan drainase, termasuk pembangunan paving block,” ujar Akhmad.
Selain itu, pengelolaan sampah terpadu juga menjadi agenda penting yang diselaraskan dengan program Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.
Pemerintah kecamatan mendorong pengolahan sampah dilakukan hingga tingkat RT dan RW dengan memanfaatkan potensi lahan yang tersedia di setiap wilayah.
“Kami arahkan pengolahan sampah bisa dilakukan di tiap RT, RW, dan kelurahan,” jelasnya.
Pengembangan urban farming turut diperkuat sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan dan pemanfaatan ruang terbatas di kawasan perkotaan. Akhmad menargetkan program ini tidak hanya berkembang di tingkat kelurahan, tetapi juga menjangkau lingkungan RT.
Saat ini, Kecamatan Bontoala telah memiliki empat titik percontohan urban farming yang tersebar di Kelurahan Layang, Parang Layang, dan Timungang Lompoa, dengan dua lokasi berada di Timungang Lompoa.
Sementara itu, pemberdayaan UMKM diarahkan pada peningkatan keterampilan dan daya saing warga. Pemerintah kecamatan menyiapkan program pelatihan serta sertifikasi agar pelaku UMKM mampu tumbuh lebih profesional dan berkelanjutan.
“Kami ingin warga memiliki keterampilan bersertifikat sehingga ekonomi mereka semakin kuat,” tegasnya.
Sebagai informasi, Kecamatan Bontoala memiliki sekitar 51 ribu penduduk dengan luas wilayah 2,1 kilometer persegi, terdiri atas 56 RW dan 241 RT.











