mediasulsel.id, Aceh Tamiang, Kamis, 23/07/2026 — Kantah Aceh Tamiang kembali melayani masyarakat setelah operasional sempat terhenti sekitar dua bulan dan dialihkan ke Kota Langsa akibat kerusakan berat dari bencana hidrometeorologi Sumatera pada akhir November 2025.
Kantah Aceh Tamiang Kembali Beroperasi Pascabencana
Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid meninjau kondisi Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Tamiang pada Kamis, 23/07/2026.
“Sekarang pelayanan kepada masyarakat sudah kembali berjalan,” kata Nusron Wahid dalam keterangan resmi Kementerian ATR/BPN.
Kantor tersebut termasuk fasilitas pertanahan yang mengalami dampak terparah akibat banjir dan tanah longsor pada 2025.
Selama kantor tidak dapat digunakan, layanan dialihkan sementara ke Kota Langsa agar masyarakat tetap memperoleh akses terhadap pelayanan pertanahan.
Nusron memeriksa sejumlah bagian bangunan yang rusak, termasuk ruang penyimpanan arsip, area pelayanan, dan fasilitas penunjang.
Proses rehabilitasi masih berlangsung bertahap meskipun kegiatan pelayanan kepada warga telah kembali berjalan.
Digitalisasi Arsip Didorong Perkuat Ketahanan Data
Pemulihan kantor juga diarahkan menjadi kesempatan untuk memperkuat sistem penyimpanan arsip melalui digitalisasi dan penggunaan mikrofilm.
Langkah tersebut dinilai penting agar data pertanahan tetap dapat ditelusuri apabila dokumen fisik rusak atau hilang akibat bencana.
“Waktu itu pelayanan sempat tertunda sekitar dua bulan karena kondisi pascabencana dan terpaksa mengungsi. Sekarang kita sudah bisa aktif lagi di sini,” ujar Nusron.
Kementerian ATR/BPN menargetkan perbaikan gedung dan fasilitas layanan dilanjutkan hingga kantor kembali memenuhi standar kenyamanan serta keamanan bagi pemohon dan pegawai.
Nusron menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, pemerintah daerah, dan pihak lain yang mendukung rehabilitasi kantor.
Pemulihan layanan diharapkan mempercepat penyelesaian kebutuhan pertanahan masyarakat sekaligus membangun sistem arsip yang lebih tahan terhadap risiko bencana di masa mendatang.
















