Opini

Laut Melimpah, Air Bersih Langka: Ironi Warga Pesisir Makassar Utara

2
WhatsAppImage2026 08 17at14.43.41
Aditya Rahman Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

Oleh: Aditya Rahman
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

mediasulsel.id – Makassar – Laut membentang luas di kawasan Makassar Utara. Setiap hari, nelayan dan pedagang ikan menggantungkan hidup pada hasil laut. Namun, di balik kekayaan tersebut, warga pesisir masih menghadapi persoalan mendasar: sulit mendapatkan air bersih.

Ini menjadi ironi. Masyarakat tinggal begitu dekat dengan air, tetapi harus berjuang memperoleh air yang layak untuk mandi, mencuci, memasak, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kelangkaan air bersih di Makassar Utara bukan persoalan baru. Masalah ini telah berlangsung lama dan menjadi gambaran kesenjangan pembangunan infrastruktur di Kota Makassar.

Pipa Ada, Air Tak Mengalir

Persoalan utama berada pada jaringan distribusi air yang belum menjangkau seluruh kawasan pesisir secara optimal. Di sejumlah wilayah, jaringan pipa mungkin telah tersedia, tetapi aliran air belum dapat dinikmati warga secara lancar.

Warga akhirnya bergantung pada pasokan mobil tangki dan depot air isi ulang. Mobil tangki disebut hanya datang beberapa kali dalam sepekan, sedangkan kebutuhan air harus dipenuhi setiap hari.

Pilihan membeli air memang menjadi solusi sementara. Namun, kondisi tersebut juga menambah beban pengeluaran keluarga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Uang yang semestinya digunakan untuk membeli makanan, membiayai pendidikan, atau memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya harus disisihkan untuk mendapatkan air bersih.

Ketika Air Menjadi Barang Mahal

Air merupakan kebutuhan dasar yang semestinya dapat diakses secara mudah dan layak oleh setiap warga. Namun, bagi sebagian masyarakat pesisir Makassar Utara, air justru berubah menjadi barang yang harus dibeli dan diperhitungkan setiap hari.

Warga dipaksa membeli, mengantre, mengangkut, dan menghemat air. Mereka hidup di depan lautan luas, tetapi untuk memenuhi kebutuhan mandi dan memasak pun harus melihat sisa uang di kantong.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis air bersih di Makassar Utara tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan alam. Masalah tersebut juga berkaitan dengan kebijakan, perencanaan, dan pemerataan pembangunan jaringan distribusi air.

Pemerintah Kota Makassar bersama Perumda Air Minum Kota Makassar perlu memberikan perhatian lebih serius terhadap kawasan pesisir. Perencanaan layanan air bersih harus berorientasi pada pemerataan dan keadilan wilayah, bukan hanya berpusat di kawasan perkotaan yang telah memiliki infrastruktur memadai.

Air Bersih Adalah Hak Dasar

Penyelesaian krisis air tidak cukup dilakukan melalui bantuan mobil tangki. Langkah tersebut hanya bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan.

Diperlukan pembangunan serta perbaikan jaringan pipa, peningkatan kapasitas distribusi, dan target pelayanan yang jelas bagi wilayah pesisir. Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi terbuka mengenai rencana dan tahapan penyelesaian masalah tersebut.

Selama akses air bersih belum menjadi prioritas, warga Makassar Utara akan terus menghadapi luka yang sama. Dampaknya bukan hanya pada pengeluaran rumah tangga, tetapi juga terhadap kesehatan, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Laut memang terbentang luas di depan mata. Namun, bagi warga pesisir Makassar Utara, mendapatkan setetes air bersih masih menjadi perjuangan.

Exit mobile version