Sulsel

Produksi Ikan Pangkep Tembus 23 Ribu Ton, Anggaran Jadi Tantangan

0
×

Produksi Ikan Pangkep Tembus 23 Ribu Ton, Anggaran Jadi Tantangan

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 09 04 at 12.15.03 20kb
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pangkep, Muh. Arsyad Djamal

mediasulsel.id – Pangkep – Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) memiliki potensi perikanan yang besar, mulai dari bandeng, udang, rumput laut hingga berbagai komoditas perikanan tangkap. Namun, pengembangan potensi tersebut masih menghadapi tantangan keterbatasan anggaran.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pangkep, Muh. Arsyad Djamal, saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Pangkep.02/09/26

Arsyad mengatakan, komoditas yang selama ini menjadi ciri khas Pangkep, seperti ikan bandeng atau bolu dan udang, masih terus berkembang. Pemerintah daerah juga berupaya menjaga keberlanjutan kegiatan perikanan di tengah efisiensi anggaran pada 2026.

“Untuk sektor perikanan tahun 2026, beberapa komoditas yang menjadi ciri khas Pangkep, seperti bandeng, bolu dan udang, masih berkembang. Namun, kegiatan perikanan ikut terdampak oleh efisiensi anggaran,” kata Arsyad.

Meski demikian, pihaknya terus mencari solusi melalui kerja sama dengan sejumlah instansi pemerintah, balai terkait, kementerian, serta kalangan akademisi dan perguruan tinggi.

“Kami dari Dinas Perikanan tidak berhenti mencari solusi terbaik terhadap masalah yang ada. Salah satunya menjalin kerja sama dengan instansi vertikal, kementerian, balai, serta akademisi dari sejumlah universitas,” tuturnya.

Pangkep Punya Ribuan Hektare Lahan Budidaya

Arsyad memaparkan, Pangkep mempunyai potensi lahan budidaya air payau sekitar 10 ribu hektare. Sementara budidaya air tawar mencapai sekitar 251 hektare dan budidaya laut sekitar 7.900 hektare.

Untuk sektor perikanan tangkap, sejumlah komoditas menjadi andalan nelayan Pangkep. Di antaranya tuna, cakalang, rajungan, cumi-cumi, kakap dan kerapu.

Produksi perikanan tangkap Pangkep juga mengalami peningkatan. Menurut Arsyad, produksi yang sebelumnya berada di kisaran 22 ribu ton meningkat menjadi sekitar 23.268 ton pada 2025.

“Artinya, untuk perikanan tangkap ada peningkatan produksi,” ujarnya.

Pada sektor budidaya, produksi ikan bandeng sepanjang 2025 tercatat sekitar 15 ribu ton. Selain itu, produksi udang windu mencapai sekitar 410 ton, udang vaname 3.282 ton, ikan nila 2.430 ton dan rumput laut sekitar 94 ribu ton.

Sementara itu, produk olahan perikanan Pangkep pada 2025 mencapai sekitar 100,4 ton. Produk tersebut meliputi nugget ikan, bakso ikan, pempek, abon ikan, ikan kering hingga daging rajungan kupas.

Geomembran Dorong Produksi Garam

Dinas Perikanan Pangkep juga tengah mendorong peningkatan produksi garam. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyalurkan bantuan geomembran kepada kelompok petambak garam.

Arsyad mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, bantuan tersebut telah dimanfaatkan oleh penerima dan memberikan hasil produksi yang menggembirakan.

“Hasil produksi dari geomembran ini cukup menggembirakan karena hampir seluruh bantuan sudah dimanfaatkan pada 2026. Masih banyak petambak garam yang membutuhkan geomembran,” jelasnya.

Menurutnya, penggunaan geomembran bukan hanya membantu meningkatkan produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas garam yang dihasilkan. Peralatan tersebut juga dapat digunakan selama beberapa tahun.

“Geomembran ini selain meningkatkan kualitas garam, produksinya juga bisa meningkat. Sarana yang diberikan masih bisa dipakai untuk beberapa tahun ke depan,” katanya.

Selain pengembangan garam, pemerintah daerah juga mendorong budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok serta memfasilitasi bantuan bibit bandeng, udang dan ikan kerapu dari pemerintah pusat.

Konflik Ruang Rumput Laut Diselesaikan Secara Humanis

Terkait konflik pemanfaatan ruang pesisir, khususnya di kawasan budidaya rumput laut, Arsyad mengaku telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Dinas Perikanan Pangkep juga melakukan pendekatan secara humanis kepada para pembudidaya untuk mencari jalan keluar melalui musyawarah.

“Konflik ruang dalam budidaya rumput laut bisa diselesaikan dengan duduk bersama dan menghasilkan kesepakatan dengan kelompok-kelompok terkait,” ungkapnya.

Arsyad berharap nelayan dan pembudidaya tidak berhenti berinovasi serta meningkatkan produksi. Masyarakat juga diminta tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah karena keterbatasan anggaran dan banyaknya kelompok usaha yang harus dijangkau.

“Kami berharap masyarakat tetap berinovasi dan berproduksi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada bantuan. Kami tetap berusaha maksimal membantu masyarakat dalam meningkatkan produksi dan kesejahteraannya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *