Makassar

Ingat ki’ DoSa, Cara SDN Karuwisi 2 Sulap Sampah Jadi Seragam Gratis Murid

2
WhatsAppImage2026 08 14at11.03.34
Kepala UPT SPF SDN Karuwisi 2, Pebri D., S.Pd.Gr

mediasulsel.id – Makassar – UPT SPF SDN Karuwisi 2 Kota Makassar menghadirkan inovasi lingkungan bertajuk “Ingat ki’ DoSa” atau Donasi Sampah. Program ini mengajak seluruh warga sekolah mengumpulkan dan memilah sampah yang masih memiliki nilai jual maupun dapat didaur ulang.

Tak sekadar menjaga kebersihan lingkungan sekolah, sampah yang terkumpul melalui program tersebut juga memiliki nilai sosial. Hasil penjualan sampah akan menjadi pendapatan Bank Sampah Sekolah dan dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan para murid.

Salah satu targetnya, dana hasil Donasi Sampah akan digunakan untuk membeli perlengkapan seragam sekolah bagi murid pada tahun berikutnya. Minimal berupa topi dan dasi yang akan diberikan secara gratis kepada siswa.

Kepala UPT SPF SDN Karuwisi 2, Pebri D., S.Pd.Gr, mengatakan program Ingat ki’ DoSa menjadi bagian dari upaya sekolah membangun kebiasaan peduli lingkungan sejak dini.

Melalui program tersebut, siswa tidak hanya diajarkan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami pentingnya memilah sampah serta melihat sampah sebagai barang yang masih memiliki nilai ekonomi dan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

“Melalui Donasi Sampah ini, kami ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa sampah yang dikelola dengan baik masih memiliki nilai dan manfaat. Hasilnya masuk ke Bank Sampah Sekolah dan nantinya digunakan kembali untuk kebutuhan murid, salah satunya pembelian topi dan dasi yang akan diberikan secara gratis,” ujar Pebri D., S.Pd.Gr.

Program Ingat ki’ DoSa juga menjadi salah satu bagian dalam mendukung penerapan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS).

Gerakan tersebut merupakan unsur penting dalam upaya sekolah menuju predikat Sekolah Adiwiyata, karena mendorong keterlibatan seluruh warga sekolah dalam menjaga kebersihan, mengurangi sampah serta membangun budaya ramah lingkungan secara berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, siswa, guru maupun warga sekolah dapat membawa sampah layak jual atau layak daur ulang. Sampah kemudian dikumpulkan, dipilah berdasarkan jenisnya dan dikelola melalui Bank Sampah Sekolah.

Dengan konsep tersebut, program lingkungan tidak hanya berhenti pada kegiatan membersihkan sekolah. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna justru diubah menjadi sumber pendapatan yang manfaatnya kembali kepada peserta didik.

Pebri berharap Ingat ki’ DoSa dapat membentuk karakter siswa agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus menanamkan nilai kepedulian sosial, gotong royong dan kebiasaan mengelola sampah sejak usia sekolah dasar.

Program tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa gerakan sederhana dari lingkungan sekolah dapat memberikan dua manfaat sekaligus, yakni menciptakan lingkungan yang lebih bersih serta membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah para murid.

Exit mobile version