Makassar, Mediasulsel.id – Polisi membantah isu yang menyebut kebakaran di Jalan Kandea 3 Lorong 3, Kelurahan Baraya, Kecamatan Bontoala, Makassar, disebabkan oleh aksi pembakaran. Polisi menyebut kebakaran diduga bermula dari korsleting listrik.
Kapolsek Bontoala Kompol Dr. Andi Aris Abu Bakar, S.H., M.H., mengatakan sejumlah personel kepolisian berada di lokasi sebelum hingga saat kebakaran terjadi.
“Yang sebenarnya informasi yang tersebar bahwa dengan kejadian kebakaran ini adalah dengan adanya salah seorang yang melakukan pembakaran. Itu tidak benar. Karena pada saat kejadian anggota ada di TKP, sebelum kejadian ada di TKP,” kata Andi Aris saat ditemui di lokasi, Senin (10/8/2026) malam.
Menurutnya, sebelum kebakaran terjadi, polisi bersama Ketua RW berada di lokasi untuk memediasi perselisihan antara orang tua dan anak.
Saat proses mediasi berlangsung, listrik tiba-tiba padam. Warga kemudian menaikkan kembali pembatas listrik.
“Tiba-tiba spanning listrik turun. Setelah turun, masyarakat yang ada di luar rumah langsung dia naikkan pembatas lampu itu. Pada saat naik pembatas lampu, ada langsung merasap. Berarti ada koslet,” jelasnya.
Setelah muncul percikan akibat dugaan korsleting tersebut, api kemudian diketahui membakar rumah warga dan merembet ke bangunan lainnya.
“Setelah ada koslet, orang bilang terjadi kebakaran,” ujarnya.
Andi Aris kembali menegaskan pihaknya membantah informasi yang berkembang di masyarakat maupun media sosial terkait dugaan pembakaran.
“Jadi, kalau isu-isu yang berkembang di luar bahwa rumah itu dibakar, itu tidak benar,” tegasnya.
Dia mengatakan terdapat anggota kepolisian yang berada di sekitar lokasi ketika peristiwa tersebut terjadi. Bahkan, keberadaan personel itu disebut menjadi salah satu dasar polisi membantah adanya aksi pembakaran.
“Ada saksi, anggota kami, ada dua orang di lokasi bersama dengan Ketua RW,” katanya.
Menurut Andi Aris, dua personel tersebut memang berada di wilayah tersebut untuk menjalankan tugas pengamanan.
“Karena anggota yang ada di TKP ada dua orang yang memang setiap saat, setiap malam, melakukan pengamanan di pos mitigasi yang ada di wilayah Bontoala. Ada semua di lokasi,” ungkapnya.
Sebelum kebakaran, polisi ternyata berada di lokasi karena adanya persoalan keluarga.
Andi Aris mengatakan orang tua dan anak sebelumnya terlibat selisih paham hingga terjadi keributan. Ketua RW kemudian meminta bantuan untuk dilakukan mediasi.
“Kebetulan antara orang tua dengan anak-anak ada selisih paham. Sehingga mungkin ada keributan di situ, sehingga dipanggil oleh RW. Anggota memediasi di situ,” katanya.
Namun, ketika proses mediasi berlangsung, listrik tiba-tiba turun sebelum akhirnya muncul percikan yang diduga berasal dari korsleting.
Sementara itu, polisi memperkirakan sekitar 30 rumah terdampak kebakaran. Jumlah tersebut masih sementara karena petugas masih melakukan pendataan di lokasi.
“Untuk sementara diperkirakan kurang lebih 30,” kata Andi Aris.
Dia menegaskan jumlah tersebut masih dapat berubah setelah proses pendataan dan pemeriksaan di lokasi selesai.
“Ini masih pendalaman. Masih tahap situasi, masih dilakukan pemadaman dan pendinginan,” ujarnya.
Polisi hingga kini masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab kebakaran. Namun, berdasarkan keterangan awal dan keberadaan personel di lokasi, polisi memastikan isu bahwa kebakaran tersebut sengaja dilakukan seseorang tidak benar.
“Kalau saya dari pihak kepolisian menjelaskan bahwa isu-isu yang berkembang di luar bahwa ada salah seorang yang melakukan pembakaran itu tidak benar. Itu tidak benar sama sekali,” tegasnya.
