mediasulsel.id, Makassar, Minggu, 02/08/2026 — Jelajah Sampah Mariso yang digelar Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar menghasilkan 68,04 kilogram sampah melalui aksi plogging di Asrama Lompobattang, Sabtu, 1 Agustus 2026. Sampah tersebut langsung dipilah menjadi organik, anorganik, dan residu sebelum disalurkan ke fasilitas pengelolaan yang sesuai.
Kegiatan ini merupakan titik kesembilan program Jelajah Sampah yang dilaksanakan DLH Kota Makassar untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, membuka kegiatan yang melibatkan unsur pemerintah kecamatan dan kelurahan, RT dan RW, satuan tugas kebersihan, serta masyarakat Kecamatan Mariso.
Jelajah Sampah Mariso Perlihatkan Proses Pemilahan hingga Pengolahan
Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi plogging atau kegiatan memungut sampah sambil berjalan di sekitar lokasi pelaksanaan.
Hasil penimbangan menunjukkan sampah yang terkumpul mencapai 68,04 kilogram.
Jumlah tersebut terdiri atas 50,28 kilogram sampah organik, 9,6 kilogram sampah anorganik, dan 8,16 kilogram sampah residu.
Sampah organik yang terkumpul kemudian dimasukkan ke Tempat Edukasi dan Budidaya Sampah atau TEBA di RW 6, Kelurahan Pannambungan, Kecamatan Mariso.
Sementara itu, sampah anorganik disalurkan ke Bank Sampah Mawar RW 6 agar dapat kembali dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.
Adapun sampah residu yang sudah tidak dapat diolah atau didaur ulang dibawa menuju Tempat Pemrosesan Akhir Antang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan proses tersebut menunjukkan bahwa sampah yang sudah dipilah tidak seluruhnya harus berakhir di tempat pemrosesan akhir.
“Melalui Jelajah Sampah, kami ingin memperlihatkan bahwa setiap jenis sampah memiliki jalur pengelolaan yang berbeda. Sampah organik dapat diolah, sampah anorganik dapat disalurkan ke bank sampah, sedangkan hanya residu yang dibawa ke TPA,” kata Helmy Budiman dalam kegiatan tersebut, Sabtu, 01/08/2026.
Menurut Helmy, pemilahan sampah dari rumah menjadi tahapan pertama yang menentukan keberhasilan pengelolaan sampah di Kota Makassar.
Sampah yang telah dipisahkan berdasarkan jenisnya akan lebih mudah dikumpulkan, diangkut, dan diarahkan menuju fasilitas pengolahan yang tepat.
Program Jelajah Sampah tidak hanya mengajarkan masyarakat membedakan sampah organik, anorganik, dan residu.
Kegiatan tersebut juga menjelaskan perjalanan sampah setelah dikumpulkan sehingga warga mengetahui fasilitas yang dapat menerima setiap jenis sampah.
“Pemerintah terus memperkuat fasilitas dan alur pengelolaan sampah di tingkat wilayah. Namun, keberhasilan sistem ini tetap bergantung pada partisipasi masyarakat untuk memilah dari rumah dan menyerahkan sampah melalui jalur pengelolaan yang tepat,” ujar Helmy.
Pemilahan sejak dari rumah dinilai dapat membantu mengurangi volume sampah yang setiap hari masuk ke TPA Antang.
Sampah organik dapat diolah kembali, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan bahan tertentu dapat disalurkan melalui bank sampah.
Pemilahan Sampah Lindungi Petugas dan Kurangi Beban TPA Antang
Selain mengurangi beban TPA, pemilahan sampah berkaitan langsung dengan keselamatan petugas kebersihan saat bekerja.
Benda tajam seperti pecahan kaca, tusuk sate, potongan kaleng, dan material berbahaya lainnya perlu dipisahkan serta dikemas dengan aman.
Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah petugas mengalami luka saat mengumpulkan, memindahkan, atau mengangkut sampah.
Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, menegaskan pengelolaan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.
Menurutnya, perubahan kebiasaan harus dimulai dari rumah dengan dukungan pemerintah di tingkat kecamatan, kelurahan, RT, dan RW.
“Pengelolaan sampah adalah pekerjaan besar yang tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari camat, lurah, RT, RW, hingga masyarakat di setiap rumah,” kata Melinda.
DLH Kota Makassar karena itu terus mendorong aparat wilayah memperkuat edukasi dan pendampingan kepada masyarakat secara berkelanjutan.
Warga diharapkan tidak sekadar mengetahui cara memilah, tetapi juga memahami tempat penyaluran sampah setelah dipisahkan.
Edukasi tersebut diharapkan membentuk kebiasaan baru agar sampah tidak lagi tercampur sejak berada di rumah, tempat usaha, kantor, maupun lingkungan permukiman.
Rangkaian Jelajah Sampah Mariso turut diisi dengan sesi bincang lingkungan bersama praktisi lingkungan Tjing Ming Nelly dan Pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS3R Mariso, Saleh.
Pembahasan berfokus pada pentingnya konsistensi masyarakat dalam memilah sampah dan ketersediaan fasilitas pengolahan di tingkat lingkungan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran DLH Kota Makassar, Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Kepala Asrama Lompobattang, Camat Mariso, unsur Tripika Kecamatan Mariso, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Mariso, para lurah, RT dan RW, serta satgas kebersihan se-Kecamatan Mariso.
Melalui pelaksanaan Jelajah Sampah di titik kesembilan, DLH Kota Makassar berharap pemilahan sampah semakin diterapkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Partisipasi masyarakat dibutuhkan agar sampah organik dan anorganik dapat kembali dimanfaatkan, residu yang dibawa ke TPA berkurang, serta keselamatan petugas kebersihan semakin terlindungi.
Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Kota Makassar yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.













