SD Inpres Mangasa 1 Berbenah Menuju Adiwiyata Nasional

oleh -1 Dilihat
oleh
SD Inpres Mangasa 1 Berbenah Menuju Adiwiyata Nasional
Guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik UPT SPF SD Inpres Mangasa 1 menata kebun sekolah sebagai bagian dari pembenahan menuju Adiwiyata Nasional. Foto dokumentasi sekolah

mediasulsel.id, Makassar, Senin, 06/07/2026 — UPT SPF SD Inpres Mangasa 1 berbenah menuju Adiwiyata Nasional melalui penataan kebun sekolah, penghijauan, dan pelibatan guru, tenaga kependidikan, serta peserta didik dalam menjaga lingkungan belajar yang bersih dan sehat.

Pembenahan tersebut terlihat dari kegiatan penanaman berbagai jenis tanaman pada lahan kosong di lingkungan sekolah.

Guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik bekerja bersama mengolah tanah, menanam bibit, menyiram tanaman, serta menata area kebun agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam membangun budaya peduli lingkungan, bukan hanya menjelang penilaian, tetapi juga sebagai kebiasaan sehari-hari bagi seluruh warga sekolah.

Kepala UPT SPF SD Inpres Mangasa 1, Hj. Junaedah, S.Pd., mengatakan keterlibatan pendidik dan tenaga kependidikan menjadi salah satu kekuatan utama dalam proses pembenahan sekolah.

“Guru dan tenaga kependidikan sangat antusias melakukan pembenahan demi memajukan sekolah menuju Adiwiyata Nasional,” kata Hj. Junaedah, Senin, 6 Juli 2026.

Ia menilai kesiapan menuju Adiwiyata Nasional harus dibangun melalui kerja bersama yang melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, dan masyarakat di sekitar sekolah.

banner DPRD Makassar 728x90

Hj. Junaedah tercatat sebagai Kepala UPT SPF SD Inpres Mangasa 1 berdasarkan publikasi resmi sekolah mengenai pelantikannya sebagai kepala sekolah.

SD Inpres Mangasa 1 Perkuat Budaya Peduli Lingkungan

Pembenahan lingkungan dilakukan dengan memanfaatkan ruang yang tersedia sebagai kebun edukasi dan area penghijauan.

Dalam dokumentasi kegiatan yang diterima mediasulsel.id, warga sekolah terlihat menanam sayuran dan tanaman hias di lahan yang telah ditata menggunakan pembatas kayu.

Setiap tanaman juga dilengkapi penanda sederhana agar peserta didik dapat mengenali jenis tanaman yang dirawat.

Kebun sekolah tersebut diharapkan tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi peserta didik.

Melalui kegiatan menanam, siswa dapat mengenal proses pertumbuhan tanaman, pentingnya kesuburan tanah, kebutuhan air, serta tanggung jawab merawat makhluk hidup.

Kegiatan lingkungan juga dapat dihubungkan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, pendidikan karakter, proyek kelas, serta kegiatan ekstrakurikuler.

Pendekatan itu membuat pendidikan lingkungan tidak berhenti pada teori di ruang kelas, melainkan dipraktikkan melalui kegiatan sederhana yang dapat dilakukan secara rutin.

Sekolah juga dapat memanfaatkan hasil kebun sebagai bahan pengenalan pola konsumsi sehat, pengelolaan sampah organik, dan pembuatan kompos.

Sisa daun, rumput, dan bahan organik dari lingkungan sekolah dapat diolah menjadi pupuk alami apabila tersedia sistem pengelolaan yang aman dan terarah.

Langkah tersebut dapat membantu mengurangi sampah sekaligus mengajarkan kepada peserta didik bahwa sebagian limbah masih dapat dimanfaatkan kembali.

Program Adiwiyata merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekolah melalui gerakan peduli dan perilaku ramah lingkungan.

Kementerian Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa program tersebut diarahkan untuk menciptakan sekolah yang nyaman, sehat, hijau, serta mampu membentuk karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan.

Pelaksanaan Program Adiwiyata saat ini mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Program Adiwiyata.

Regulasi tersebut menempatkan pendidikan lingkungan sebagai bagian yang perlu diintegrasikan ke dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Sekolah juga perlu menyusun program yang memiliki sasaran perubahan perilaku serta perubahan kondisi fisik lingkungan.

Karena itu, pembenahan kebun dan penghijauan merupakan salah satu bagian dari proses yang lebih luas.

Sekolah tetap perlu memperkuat kebijakan, program pembelajaran, keterlibatan warga sekolah, dokumentasi kegiatan, serta pengelolaan sarana yang ramah lingkungan.

Pengalaman SD Inpres Mangasa 1 dalam mengembangkan kegiatan berbasis lingkungan juga telah berlangsung sebelumnya.

Publikasi Universitas Negeri Makassar pada 2021 mencatat pelaksanaan kegiatan hidroponik di SD Inpres Mangasa 1 untuk membantu menumbuhkan karakter peduli lingkungan pada peserta didik.

Pengalaman tersebut dapat menjadi modal bagi sekolah untuk mengembangkan program yang lebih terencana, terukur, dan melibatkan lebih banyak warga sekolah.

Program lama dapat dievaluasi untuk melihat kegiatan yang masih berjalan, fasilitas yang perlu diperbaiki, serta kebiasaan lingkungan yang harus diperkuat.

Pembenahan Sekolah Diarahkan Menjadi Gerakan Berkelanjutan

Persiapan menuju Adiwiyata Nasional tidak cukup dilakukan melalui kegiatan penghijauan dalam waktu singkat.

Sekolah perlu memastikan setiap kegiatan memiliki penanggung jawab, jadwal pelaksanaan, target capaian, sumber pembiayaan, dan bukti perubahan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025 juga mengatur penyusunan rencana Program Adiwiyata empat tahunan dan rencana tahunan berdasarkan potensi serta tantangan lingkungan di setiap sekolah.

Kementerian Lingkungan Hidup menempatkan lima aspek utama sebagai bagian penting dalam pembinaan sekolah melalui Program Adiwiyata.

Lima aspek tersebut meliputi kebersihan dan sanitasi, pengelolaan sampah, pelestarian keanekaragaman hayati, konservasi air, serta penghematan energi.

Pembenahan di SD Inpres Mangasa 1 dapat dikembangkan dengan menghubungkan seluruh aspek tersebut ke dalam kegiatan sehari-hari.

Pada bidang kebersihan dan sanitasi, sekolah dapat memperkuat jadwal pemeliharaan ruang kelas, halaman, toilet, saluran air, dan fasilitas cuci tangan.

Pada bidang pengelolaan sampah, warga sekolah dapat menerapkan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari ruang kelas.

Sampah organik dapat diarahkan menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat dikumpulkan melalui bank sampah atau kerja sama dengan pihak pengelola.

Pada bidang keanekaragaman hayati, kebun sekolah dapat ditanami sayuran, tanaman obat keluarga, bunga, tanaman peneduh, dan jenis tanaman lokal.

Setiap tanaman dapat diberi nama serta informasi singkat agar kebun berfungsi sebagai ruang belajar terbuka.

Konservasi air dapat diterapkan melalui penggunaan air secukupnya saat menyiram tanaman, pemeriksaan kebocoran, dan pemanfaatan air hujan apabila fasilitas memungkinkan.

Penghematan energi dapat dilakukan dengan membiasakan warga sekolah mematikan lampu, kipas, dan perangkat elektronik ketika tidak digunakan.

Seluruh kegiatan tersebut membutuhkan teladan dari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan agar peserta didik melihat perilaku ramah lingkungan sebagai kebiasaan bersama.

Keterlibatan peserta didik juga harus disesuaikan dengan usia dan memperhatikan keamanan selama bekerja di kebun atau menggunakan peralatan.

Hj. Junaedah berharap semangat pembenahan dapat terus dipertahankan sehingga perubahan lingkungan sekolah tidak bersifat sementara.

Pengembangan kebun sekolah, perawatan tanaman, kebersihan fasilitas, pengurangan sampah, dan penghematan sumber daya perlu dimasukkan ke dalam agenda rutin.

Sekolah juga perlu melakukan evaluasi berkala untuk memastikan tanaman tetap terawat dan fasilitas lingkungan dapat digunakan dalam jangka panjang.

Status Adiwiyata Nasional nantinya ditentukan melalui tahapan pembinaan, pengusulan, penilaian, dan penetapan sesuai ketentuan yang berlaku.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat informasi mengenai jadwal penilaian maupun status pengusulan SD Inpres Mangasa 1 pada tingkat nasional.

Pembenahan yang sedang dilakukan menjadi langkah awal untuk memperkuat kesiapan sekolah sekaligus membangun lingkungan belajar yang lebih sehat bagi peserta didik.

Keberhasilan program tidak hanya diukur melalui penghargaan, tetapi juga melalui perubahan perilaku warga sekolah dalam menjaga kebersihan, merawat tanaman, mengurangi sampah, serta menggunakan air dan energi secara bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.