banner BPKAD Kota Makassar 728x90
Pendidikan

SMPN 15 Makassar Sulap Sampah Daun Jadi Kompos, Siswa Tanam Cabai Lewat BERSAUDARAKI

3
×

SMPN 15 Makassar Sulap Sampah Daun Jadi Kompos, Siswa Tanam Cabai Lewat BERSAUDARAKI

Sebarkan artikel ini
Siswa dan guru UPTD SPF SMP Negeri 15 Makassar menanam bibit cabai menggunakan kompos dari olahan sampah daun melalui inovasi BERSAUDARAKI. (Foto: Dok. Istimewa)
banner BPKAD Kota Makassar 728x90

mediasulsel.id, Makassar, Rabu, 28/10/2026 — SMPN 15 Makassar melibatkan para siswa dan guru dalam penanaman bibit cabai di halaman sekolah melalui inovasi BERSAUDARAKI, program yang mengubah sampah daun menjadi kompos untuk kebun produktif.

BERSAUDARAKI merupakan singkatan dari Bersih dari Sampah Daun Menuju Urban Farming Sekolah Kita.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada Oktober 2026 tersebut, siswa menanam bibit menggunakan polybag dan media tanam kompos yang diolah dari sampah daun di lingkungan sekolah.

SMPN 15 Makassar Olah Sampah Daun untuk Kebun Sekolah

Kepala UPTD SPF SMP Negeri 15 Makassar, Mutmainnah, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penerapan inovasi BERSAUDARAKI.

Alurnya dimulai dari mengumpulkan dan memilah sampah daun, mengolahnya menjadi kompos, menyiapkan media tanam, hingga menanam dan merawat bibit.

“Tujuannya bukan hanya membuat sekolah lebih bersih dan hijau, tapi memberi pengalaman nyata kepada murid tentang kepedulian lingkungan, ketahanan pangan, dan pembelajaran kontekstual. Hari ini anak-anak menanam cabai, besok mereka panen hasil karya sendiri,” ujar Mutmainnah dalam keterangan yang disampaikan pihak sekolah.

Melalui kegiatan gotong royong ini, siswa mempraktikkan pemanfaatan sampah organik sekaligus belajar merawat tanaman sejak tahap awal.

BERSAUDARAKI Dorong Pembelajaran Lingkungan

Penanaman cabai tersebut menjadi bagian dari dukungan sekolah terhadap gerakan Sekolah Bersih, Murid Hebat, Masa Depan Kuat.

Pihak sekolah berharap kebun cabai dapat menjadi sarana pembelajaran serta menghasilkan tanaman yang bermanfaat bagi warga sekolah.

Program ini juga memperkenalkan pertanian perkotaan atau urban farming, yakni kegiatan menanam dan mengelola tanaman di lingkungan dengan lahan terbatas.

Melalui pengolahan sampah daun menjadi kompos, sekolah berupaya mengurangi limbah organik sekaligus menyediakan media tanam untuk kegiatan siswa.

Keberlanjutan program akan bergantung pada perawatan bibit, pengelolaan kompos, dan keterlibatan warga sekolah setelah penanaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *