MEDIASULSEL.ID, MAKASSAR, Minggu (1/11/2026) — Perseteruan antarkelompok warga di kawasan Jalan Kandea 3, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kembali menjadi perhatian. Kepolisian menyebut konflik tersebut telah berulang selama sekitar 30 tahun.
Kapolsek Bontoala Kompol Abdul Samad menjelaskan pertikaian kerap melibatkan kelompok warga Kelurahan Baraya, Kecamatan Bontoala, dan Kelurahan Bungaejaya Beru, Kecamatan Tallo.
Menurutnya, aksi saling provokasi dan balasan antarkelompok membuat bentrokan kembali terjadi meskipun sudah ada upaya perdamaian.
“Ini sudah 30 tahun yang lalu mulainya dan sekarang saling membalas, jadi tawuran yang berulang,” kata Abdul Samad kepada awak media, Jumat (30/10/2026).
Sudah Berkali-kali Berdamai, Tawuran Tetap Terjadi
Abdul Samad mengatakan upaya mempertemukan dan mendamaikan kedua pihak telah dilakukan beberapa kali.
Berdasarkan informasi yang diperoleh polisi, upaya perdamaian pada masa lalu bahkan pernah disertai penyembelihan sapi. Namun, perkelahian kelompok masih kembali terjadi.
Polisi menyebut pemicu bentrokan tidak selalu berasal dari satu pihak. Provokasi bisa muncul dari kelompok di wilayah Tallo maupun Baraya.
Situasi tersebut membuat penyelesaian perseteruan menjadi tantangan yang membutuhkan keterlibatan aparat serta warga dari kedua wilayah.
Polisi Turun Tangan, Warga Diminta Menahan Diri
Petugas kepolisian dikerahkan ke lokasi untuk menghentikan bentrokan dan mengimbau warga kembali ke rumah masing-masing.
“Kami langsung mengerahkan anggota ke lokasi dan menyampaikan kepada warga untuk masing-masing kembali ke rumahnya. Alhamdulillah sampai saat ini sudah kondusif dan sudah aman,” ujar Abdul Samad.
Sebelumnya, tawuran juga terjadi di Jalan Kandea 3 pada Jumat (9/10/2026) sore. Saat itu, Kanit Reskrim Polsek Bontoala Iptu Abdul Latif menyampaikan bahwa bentrokan melibatkan warga Baraya dan Bungaejaya Beru.
Kepolisian saat itu menerima informasi awal mengenai dugaan provokasi dari pihak luar, tetapi penyebab pasti bentrokan belum diketahui.
Peristiwa yang terus berulang tersebut menunjukkan pentingnya pencegahan dan komunikasi berkelanjutan antara warga, tokoh masyarakat, pemerintah setempat, serta aparat keamanan agar konflik tidak kembali pecah.
