mediasulsel.id – Seorang jemaah umrah lanjut usia asal Makassar, Sitti Maemunah (79), meninggal dunia di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, pada Sabtu, 8 Februari 2026, saat menunggu kepulangan ke Indonesia. Kejadian ini terjadi setelah penerbangan yang seharusnya membawa rombongan pulang tertunda hingga dua hari akibat kendala teknis pada pesawat.
Berdasarkan kesaksian sesama jemaah, Maemunah awalnya terlihat beristirahat di kursi ruang tunggu. Namun suasana mendadak berubah ketika ia tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri. Korban diketahui memiliki riwayat asma serta kondisi kesehatan yang rentan karena faktor usia.
Sebelumnya, para penumpang telah menjalani proses check-in dan bahkan sempat berada di dalam pesawat sebelum akhirnya diminta turun kembali. Penundaan dilakukan setelah ditemukan kerusakan pada bagian kokpit, sehingga penerbangan ditunda demi alasan keselamatan.
Selama masa tunggu, sejumlah jemaah mengaku kebingungan karena minimnya informasi terkait jadwal keberangkatan baru. Beberapa penumpang juga mengeluhkan keterbatasan fasilitas, termasuk akses makanan, khususnya bagi mereka yang memilih tetap bertahan di area bandara.
Penundaan berkepanjangan membuat rombongan terpaksa menunggu dalam kondisi yang melelahkan. Pihak travel sempat menawarkan agar jemaah kembali ke hotel, namun opsi tersebut dinilai menyulitkan karena memerlukan pengurusan administrasi tambahan agar tiket tidak hangus.
Pada hari pertama keterlambatan, situasi di terminal sempat menegangkan setelah seorang jemaah laki-laki dilaporkan mengalami kondisi darurat dan membutuhkan penanganan medis. Peristiwa itu menjadi sinyal bahwa kondisi fisik para penumpang mulai menurun akibat kelelahan.
Rombongan kemudian diantar ke hotel untuk beristirahat sebelum kembali ke bandara keesokan paginya dengan harapan segera diberangkatkan. Maskapai disebut telah menjadwalkan ulang penerbangan sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Namun harapan itu kembali tertunda setelah proses check-in dilaporkan mengalami gangguan.
Sejumlah penumpang mengaku kesulitan memperoleh makanan layak selama menunggu. Sebagian hanya mengandalkan makanan instan karena pilihan yang tersedia terbatas. Kondisi tersebut semakin berat bagi jemaah lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih.
Sebelum kejadian, beberapa jemaah disebut telah mengingatkan pendamping perjalanan agar lebih memperhatikan kondisi Maemunah yang tampak lemah. Namun kekhawatiran itu tidak segera ditindaklanjuti. Korban bahkan dilaporkan sempat duduk seorang diri di ruang tunggu sebelum akhirnya kolaps.
Pendamping rombongan awalnya mengira Maemunah hanya tertidur. Kepanikan pun terjadi ketika diketahui ia tidak merespons dan kondisinya sudah sangat serius. Keterlambatan bantuan medis turut menjadi sorotan para jemaah yang berada di lokasi.
Pihak Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan memastikan insiden ini tengah dalam proses penelusuran. Dugaan awal mengarah pada faktor kesehatan yang diperparah oleh kondisi lingkungan, termasuk suhu ruangan yang dingin selama masa penantian.
Otoritas terkait berencana memeriksa maskapai serta penyelenggara perjalanan umrah guna memastikan standar pelayanan terhadap jemaah—terutama lansia—telah dijalankan dengan baik. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan serta pendampingan ekstra bagi penumpang berisiko tinggi selama perjalanan ibadah.












