ArtikelBerita

BBM Antre, Gas 3 Kg Langka, Listrik Padam: Warga Makassar Menjerit

10
×

BBM Antre, Gas 3 Kg Langka, Listrik Padam: Warga Makassar Menjerit

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 09 09 at 08.56.22 20kb
Antrean kendaraan mengular di salah satu SPBU di Kota Makassar saat warga berusaha mendapatkan bahan bakar minyak. Foto: Istimewa.

MEDIASULSEL.ID, MAKASSAR – Persoalan kebutuhan dasar yang dialami warga Kota Makassar dan sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan seolah datang silih berganti.

Setelah kesulitan air bersih dan pemadaman listrik bergilir, masyarakat kini menghadapi antrean bahan bakar minyak serta kelangkaan elpiji 3 kilogram.

Keluhan mengenai kondisi tersebut ramai disampaikan warga melalui status WhatsApp dan berbagai platform media sosial.

Anto, warga Makassar, mengaku harus mengatur waktu istirahatnya hanya untuk memenuhi sejumlah kebutuhan dasar keluarganya.

“Tengah malam sampai Subuh menadah air, pagi antre BBM, malam listrik padam, sekarang elpiji juga langka,” kata Anto, Selasa (8/9/2026).

Kelangkaan elpiji 3 kilogram juga dikeluhkan ibu rumah tangga bernama Saidah.

Ia mengaku kesulitan mendapatkan gas untuk memasak meski telah mendatangi sejumlah tempat penjualan.

“Kenapa makin ke sini hidup makin susah. Mau memasak saja harus ke sana kemari mencari gas, itu pun belum tentu dapat,” ujar Saidah.

Keluhan serupa datang dari seorang warga Kabupaten Gowa.

Ia mengaku membutuhkan waktu hingga dua hari untuk memperoleh satu tabung elpiji 3 kilogram.

“Saya sampai dua hari mencari elpiji baru dapat. Itu pun stok milik penjual yang sebenarnya akan dipakai sendiri karena saya kebetulan mengenalnya,” katanya.

Menurut dia, penjual yang memberikan stok tersebut justru belum kembali memperoleh pasokan dari agen.

Antrean BBM Meluas hingga Pertamax

Persoalan yang dihadapi masyarakat tidak berhenti pada kelangkaan elpiji 3 kilogram.

Antrean kendaraan juga masih terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di Kota Makassar.

Jika sebelumnya antrean panjang lebih banyak terjadi pada pengisian Biosolar, kepadatan kini juga terlihat pada jalur Pertalite dan Pertamax.

Pantauan di salah satu SPBU di Jalan AP Pettarani, Makassar, Selasa pagi, menunjukkan antrean kendaraan mengular hingga keluar area pengisian.

Kondisi tersebut turut memicu perlambatan arus lalu lintas di sekitar lokasi.

Basri, seorang pengemudi ojek daring, mengaku harus mengantre berjam-jam untuk memperoleh Pertalite.

Antrean panjang dinilai mengganggu aktivitasnya karena sebagian besar pendapatannya bergantung pada mobilitas harian.

“Setiap pagi seperti ini. Saya harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan Pertalite,” kata Basri.

“Biasanya kalau antrean Pertalite panjang, saya beralih ke Pertamax. Sekarang antrean Pertamax juga panjang,” lanjutnya.

Pemandangan antrean kendaraan di SPBU disebut telah berlangsung selama beberapa bulan.

Kondisi serupa tidak hanya terjadi di Makassar, tetapi juga dikeluhkan masyarakat di sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Warga Hadapi Pemadaman Bergilir

Di tengah antrean BBM dan kelangkaan elpiji, masyarakat masih harus menghadapi pemadaman listrik bergilir.

Pemadaman yang berlangsung sejak awal Agustus 2026 itu dilaporkan terjadi selama beberapa jam di sejumlah wilayah.

Asnawi, warga Kecamatan Bontoala, Makassar, mengaku harus melakukan berbagai persiapan setiap kali menerima jadwal pemadaman.

“Belum selesai urusan antre BBM dan kesulitan air, sekarang pemadaman menambah pekerjaan,” ujar Asnawi.

“Kalau sudah ada jadwal pemadaman, saya harus mengamankan penampungan air, mengisi daya lampu cadangan, dan power bank,” sambungnya.

Pertamina Klaim Stok BBM Aman

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyatakan persediaan BBM bersubsidi di Sulawesi Selatan masih aman dan mencukupi.

Area Manager Communication, Relation, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan penguatan distribusi dan pengaturan pelayanan telah dilakukan.

“Stok BBM subsidi di Sulawesi Selatan saat ini masih aman dan mencukupi,” kata Lilik dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, antrean di sejumlah SPBU mulai melandai setelah dilakukan penguatan distribusi.

Pertamina juga mengaku terus memantau kondisi setiap wilayah agar penyaluran BBM berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

Lilik mengatakan peningkatan konsumsi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kepadatan antrean.

Rata-rata penyaluran harian Biosolar pada Agustus 2026 tercatat meningkat 14,6 persen dibandingkan Mei 2026.

Peningkatan tersebut dipengaruhi aktivitas logistik dan transportasi serta perubahan pola konsumsi akibat perbedaan harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi.

Pertamina telah meningkatkan penyaluran Biosolar sebesar 14,6 persen dan Pertalite sebesar 7,6 persen di Sulawesi Selatan.

Distribusi turut dipercepat melalui penyesuaian jam operasional depot dan optimalisasi mobil tangki menggunakan skema spot charter.

Meski memaparkan persentase peningkatan penyaluran, Pertamina tidak menyebutkan secara terperinci besaran kuota, kebutuhan, maupun volume tambahan BBM.

Pertamina juga menyatakan pasokan elpiji 3 kilogram masih tersedia.

Masyarakat diminta tidak membeli secara berlebihan dan memperoleh elpiji bersubsidi melalui pangkalan resmi.

PLN Ungkap Penyebab Pemadaman

PT PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat membenarkan adanya gangguan pasokan listrik di sebagian Sistem Sulawesi Bagian Selatan.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengatakan proses pemulihan dan optimalisasi pasokan masih dilakukan.

Menurutnya, pasokan listrik sebelumnya terdampak kendala teknis dan pemeliharaan pembangkit swasta.

Kondisi tersebut menyebabkan daya yang tersedia berada di bawah kebutuhan sistem.

“Kami berupaya mempercepat pemulihan dan mengoptimalkan pembangkit yang tersedia serta pola operasi pembangkit,” kata Edyansyah.

PLN juga mengakui adanya penurunan debit air pada sejumlah pembangkit listrik tenaga air.

Sejumlah pembangkit berbasis air selama ini menopang Sistem Sulawesi Bagian Selatan, termasuk PLTA Sulewana, PLTA Bakaru, PLTA Malea, PLTA Larona, dan PLTA Balambano.

Hingga Mei 2026, Sistem Sulawesi Bagian Selatan disebut memiliki daya mampu pasok sebesar 2.205,23 megawatt.

Beban puncaknya mencapai 2.089,22 megawatt dengan pertumbuhan pelanggan sekitar 3,7 persen setiap tahun.

Krisis Air Bersih Belum Berakhir

Kesulitan air bersih juga masih dirasakan sebagian warga Makassar selama beberapa bulan terakhir.

Sejumlah pelanggan Perumda Air Minum Kota Makassar mengalami pembatasan distribusi air.

Di sejumlah wilayah, air hanya mengalir pada waktu tertentu, mulai pagi hingga sore atau tengah malam hingga menjelang Subuh.

Bahkan, terdapat wilayah yang dilaporkan tidak lagi menerima aliran air sejak April 2026.

Sumur bor maupun sumur timba belum sepenuhnya menjadi solusi karena sebagian sumber air berwarna kuning dan berbau.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Makassar bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan melakukan distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, HM Fadli Tahar, mengatakan permintaan penambahan lokasi penyaluran air terus berdatangan.

“Banyak permintaan untuk menambah lokasi distribusi air bersih,” ujar Fadli.

Berdasarkan data BPBD Makassar, distribusi air bersih yang pada pertengahan Agustus dilakukan di sekitar 20 titik meningkat menjadi 95 titik pada Selasa (8/9/2026).

Jumlah lokasi penyaluran diperkirakan masih dapat bertambah jika musim kemarau terus berlangsung.

Antrean BBM, kelangkaan elpiji 3 kilogram, pemadaman listrik, dan kesulitan air bersih kini menjadi persoalan yang dihadapi warga secara bersamaan.

Di tengah klaim persediaan dan berbagai upaya pemulihan, masyarakat berharap layanan kebutuhan dasar segera kembali normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *