mediasulsel.id – IAS dikenal memiliki gaya komunikasi yang dekat dengan masyarakat dan kader. Pola ini dinilai membangun loyalitas politik berbasis hubungan personal.
Dalam konteks politik Sulawesi Selatan, pendekatan tersebut dianggap cukup berpengaruh dalam memperkuat konsolidasi kekuatan elektoral. Jejaring dukungannya di tingkat desa hingga kecamatan juga disebut masih terjaga melalui “sel-sel” sosial-politik yang bergerak secara informal namun efektif.
Model ini dipandang berbeda dengan pendekatan politik yang hanya mengandalkan mesin organisasi formal.
Rekam jejak politik IAS kembali menjadi sorotan. Sejumlah pihak menilai pengalaman politiknya dalam berbagai kontestasi, termasuk kontribusinya dalam memenangkan beberapa figur di Sulsel, menjadi modal penting dalam membaca peta persaingan Musda.
Di sisi lain, kedekatannya dengan berbagai kalangan—mulai dari pemuda, tokoh masyarakat hingga pengusaha—dinilai memperkuat posisi tawarnya dalam dinamika internal partai. Relasi lintas kelompok ini dianggap sebagai kekuatan strategis yang turut memengaruhi kalkulasi politik di tingkat DPD II.
Pengamat menilai, dalam perebutan kepemimpinan Partai Golkar Sulsel, mulai mengemuka kebutuhan akan figur “panglima politik” yang memiliki basis massa riil. Dorongan ini muncul agar partai tidak hanya dipimpin oleh figur administratif, tetapi juga sosok yang teruji dalam konsolidasi lapangan.
Nama Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, juga disebut sebagai faktor kunci dalam menentukan arah keputusan DPP.
Sejumlah analisis menyebut, keputusan pusat kemungkinan akan mempertimbangkan kebutuhan strategis partai dalam menghadapi agenda politik ke depan, termasuk penguatan kursi legislatif di Sulsel.
Meski demikian, dinamika Musda masih sangat terbuka. Seluruh pandangan tersebut merupakan bagian dari perkembangan opini di ruang publik, sementara keputusan akhir tetap bergantung pada mekanisme organisasi serta pemegang hak suara di internal Golkar.











