Makassar

DLH Makassar ‘Jelajah Sampah’ di Kayu Bangkoa, 49 Kg Sampah Terkumpul

3
WhatsAppImage2026 08 02at19.36.361
49 Kg Sampah Diangkut dari Kayu Bangkoa, DLH Makassar Genjot Pemilahan

mediasulsel.id – Makassar – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar memperluas gerakan pemilahan sampah melalui program Jelajah Sampah. Kali ini kegiatan menyasar Pelabuhan Kayu Bangkoa hingga kawasan Anjungan Pantai Losari, Kecamatan Ujung Pandang.

Kegiatan yang digelar Minggu (2/8/2026) itu diawali dengan aksi plogging. Para peserta menyusuri kawasan Pelabuhan Kayu Bangkoa sambil memungut sekaligus memilah sampah yang ditemukan.

Hasilnya, sebanyak 49 kilogram sampah berhasil dikumpulkan. Jumlah tersebut terdiri atas 10 kilogram sampah organik, 25 kilogram sampah anorganik, dan 14 kilogram sampah residu.

Kegiatan kemudian dilanjutkan di Anjungan Pantai Losari. Jelajah Sampah Ujung Pandang merupakan titik ke-10 dari rangkaian kegiatan yang menyasar 15 kecamatan di Kota Makassar.

Kepala DLH Kota Makassar Helmy Budiman mengatakan pemilahan menjadi langkah awal untuk mengubah pola pengelolaan sampah yang selama ini bertumpu pada sistem kumpul, angkut, dan buang.

“Yang ingin kami bangun bukan hanya pemahaman mengenai jenis sampah, tetapi juga kedisiplinan dalam mengelolanya. Sampah organik, anorganik, dan residu memiliki jalur penanganan yang berbeda. Karena itu, pemilahan harus dilakukan sejak dari rumah maupun tempat usaha,” ujar Helmy.

DLH Soroti Sampah dari Pusat Aktivitas Kota

Menurut DLH, Kecamatan Ujung Pandang memiliki tantangan pengelolaan sampah yang berbeda dibandingkan wilayah permukiman lainnya.

Wilayah ini menjadi salah satu pusat aktivitas pemerintahan, perdagangan dan pariwisata. Hotel, restoran, kafe hingga kawasan publik juga menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari di kawasan tersebut.

Tingginya mobilitas masyarakat membuat sampah tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga dari kawasan publik dan tempat usaha.

Di sisi lain, keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri untuk mengembangkan pengolahan sampah organik dalam skala besar di setiap lingkungan.

“Setiap kecamatan memiliki karakter dan tantangan yang berbeda. Di Ujung Pandang, kita perlu memperkuat kolaborasi dengan pelaku usaha dan pengelola kawasan karena aktivitasnya sangat tinggi. Solusinya harus disesuaikan, tetapi prinsipnya tetap sama, yaitu mengurangi sampah dari sumber dan memastikan hanya residu yang dibawa ke TPA,” jelas Helmy.

DLH Makassar pun mendorong pengurangan sampah dilakukan sejak dari sumber. Sampah organik diarahkan menuju pengolahan, sementara sampah anorganik dapat disalurkan melalui bank sampah maupun rantai daur ulang.

Sedangkan sampah yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan atau residu diarahkan menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

RT-RW Diminta Aktif Edukasi Warga

Selain edukasi, DLH Makassar mendorong adanya pendampingan, evaluasi dan pengawasan agar pemilahan sampah tidak sebatas imbauan.

Perangkat wilayah, terutama RT dan RW, dinilai memiliki peran penting karena berhubungan langsung dengan masyarakat.

Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar Melinda Aksa Munafri meminta pengurus wilayah terus memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah kepada warga.

“Jangan pernah lelah mengingatkan warga. Edukasi memang membutuhkan proses, tetapi perubahan selalu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujar Melinda.

RT dan RW juga didorong memahami metode sederhana pengolahan sampah organik yang bisa diterapkan masyarakat. Di antaranya penggunaan komposter, pembuatan biopori dan eco-enzyme, hingga budidaya maggot sesuai kondisi lingkungan.

Rangkaian Jelajah Sampah juga diisi dengan talkshow menghadirkan Najha Aris dari Pusdal LH Suma serta Mashud Azikin dari Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar.

DLH Serahkan Motor Viar untuk Pantai Losari

Dalam kegiatan tersebut, DLH Kota Makassar turut menyerahkan satu unit motor Viar kepada UPT Pantai Losari Kecamatan Ujung Pandang.

Kendaraan tersebut akan digunakan untuk menunjang pengumpulan dan pengangkutan sampah di kawasan Pantai Losari.

Armada berukuran kecil dinilai dibutuhkan untuk menjangkau titik-titik pengumpulan sampah yang sulit dilalui kendaraan berukuran besar, terutama di kawasan dengan mobilitas pengunjung tinggi.

“Penguatan sistem pengelolaan sampah harus dibarengi dengan dukungan sarana operasional yang memadai. Motor ini diharapkan membantu petugas menjangkau titik-titik pengumpulan sampah secara lebih cepat dan menjaga kawasan Pantai Losari tetap bersih,” ungkap Helmy.

Jelajah Sampah merupakan rangkaian edukasi pengelolaan sampah yang digelar di 15 kecamatan se-Kota Makassar, termasuk wilayah kepulauan.

Melalui kegiatan tersebut, DLH Makassar mendorong masyarakat, pelaku usaha hingga perangkat wilayah melakukan pemilahan dan pengurangan sampah sejak dari sumber sehingga hanya sampah residu yang berakhir di TPA.

Exit mobile version