Berita

Nusron Wahid Minta Kampus STPN Berani Undang Tokoh Kritis terhadap Pemerintah

0
WhatsApp Image 2026 09 07 at 13.02.56 15kb
Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid Beri kuliah umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

mediasulsel.id – Sleman – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid meminta tradisi dialektika dan kebebasan berpikir terus dijaga di lingkungan Politeknik Agraria STPN.

Nusron mengatakan kampus harus menjadi ruang pertukaran gagasan. Meskipun berstatus sekolah semi-kedinasan, Politeknik Agraria STPN diminta tidak takut menghadirkan tokoh yang kritis terhadap pemerintah maupun kebijakan Kementerian ATR/BPN.

“Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” kata Nusron dalam kuliah umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

Kuliah umum tersebut menghadirkan akademisi sekaligus filsuf Rocky Gerung sebagai narasumber. Menurut Nusron, perbedaan pemikiran dapat memperkaya wawasan jika setiap orang diberikan ruang untuk menyampaikan dan bertukar gagasan.

Ia kemudian menggambarkan pertukaran pemikiran melalui perumpamaan dua buah apel yang dikaitkan dengan pemikiran George Bernard Shaw.

“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama. Masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” jelasnya.

Kondisinya berbeda apabila yang dipertukarkan adalah pemikiran. Dua orang yang awalnya memiliki gagasan berbeda justru akan memperoleh tambahan perspektif setelah bertukar pendapat.

“Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tutur Nusron.

Ia berharap kuliah umum di Politeknik Agraria STPN terus menjadi ruang bagi taruna dan taruni untuk menguji serta memperkaya cara pandang mereka.

“Sharing pendapat itu akan menjadikan kita kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rocky Gerung menegaskan bahwa sebuah pemikiran harus terbuka untuk dibantah. Menurutnya, perdebatan merupakan bagian penting dari tradisi akademik.

“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” kata Rocky.

Rocky mengaku menggunakan pendekatan filosofis untuk mengajak peserta membongkar akar dari berbagai konsep, termasuk hubungan antara tanah, negara, masyarakat, dan kepentingan politik.

“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” tuturnya.

Rocky juga menjelaskan tiga cara memaknai tanah. Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur. Bagi negara, tanah mempunyai fungsi sosial yang diwujudkan melalui hukum dan pengaturan. Sementara bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.

Kuliah umum bertema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” itu diikuti lebih dari 500 taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN. Hadir pula sejumlah pejabat Kementerian ATR/BPN serta jajaran Kantor Wilayah BPN dari seluruh Indonesia.

Exit mobile version