banner BPKAD Kota Makassar 728x90
Artikel

Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober, Mengenang Resolusi Jihad dan Perjuangan Ulama Mempertahankan Kemerdekaan

4
×

Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober, Mengenang Resolusi Jihad dan Perjuangan Ulama Mempertahankan Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 10 23 at 12.57.40 20kb
Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober, Mengenang Resolusi Jihad dan Perjuangan Ulama Mempertahankan Kemerdekaan. (Dok. Istimewa)
banner BPKAD Kota Makassar 728x90

MEDIASULSEL.ID – Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peringatan ini bukan sekadar kegiatan seremonial di lingkungan pondok pesantren, melainkan bentuk penghormatan terhadap kontribusi besar kalangan santri dalam perjalanan sejarah bangsa.

Tanggal 22 Oktober dipilih karena berkaitan dengan peristiwa bersejarah Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, Jawa Timur.

Resolusi tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjuangan rakyat Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Awal Mula Sejarah Hari Santri Nasional

Sejarah Hari Santri Nasional bermula dari perjuangan para ulama dan santri yang turut mengambil bagian dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada masa penjajahan, pondok pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya semangat perjuangan, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Para kiai dan santri memiliki peran dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kemerdekaan serta mempertahankan kedaulatan bangsa.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ancaman terhadap kedaulatan negara belum sepenuhnya berakhir.

Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi kepentingan Belanda menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya penjajahan di Indonesia.

Situasi tersebut mendorong para ulama untuk mengambil sikap dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan Peran KH Hasyim Asy’ari

Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Hari Santri adalah lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.

Resolusi tersebut berkaitan erat dengan peran KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh ulama yang memiliki pengaruh besar dalam perjuangan kemerdekaan.

Melalui Resolusi Jihad, para ulama menyerukan kewajiban mempertahankan tanah air dari ancaman penjajahan.

Seruan tersebut membangkitkan semangat perjuangan umat Islam, khususnya para santri, untuk turut mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi kalangan pesantren, perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada masa itu dipandang bukan hanya sebagai tanggung jawab kebangsaan, tetapi juga kewajiban agama.

Resolusi Jihad kemudian menjadi salah satu kekuatan moral yang mendorong keterlibatan santri dan masyarakat dalam menghadapi pasukan asing.

Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan pesantren memiliki kontribusi dalam membentuk semangat nasionalisme dan keberanian membela negara.

Hubungan Hari Santri dengan Pertempuran 10 November 1945

Resolusi Jihad mempunyai kaitan historis dengan perjuangan rakyat Surabaya yang mencapai puncaknya pada 10 November 1945.

Dalam pertempuran tersebut, masyarakat Surabaya bersama berbagai kelompok pejuang, termasuk ulama dan santri, melakukan perlawanan terhadap pasukan Sekutu.

Semangat perjuangan yang dibangkitkan melalui Resolusi Jihad turut memperkuat mobilisasi perlawanan rakyat.

Pertempuran Surabaya kemudian dikenang sebagai salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tanggal 10 November akhirnya diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.

Keterkaitan dua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk kalangan pesantren yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa.

Presiden Joko Widodo Tetapkan Hari Santri pada 2015

Meskipun Resolusi Jihad terjadi pada 1945, Hari Santri baru ditetapkan secara resmi sebagai peringatan nasional pada 2015.

Presiden Republik Indonesia saat itu, Joko Widodo, menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015.

Keputusan tersebut ditandatangani pada 15 Oktober 2015.

Penetapan Hari Santri didasarkan pada pertimbangan bahwa ulama dan santri memiliki kontribusi besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan negara, serta mengisi pembangunan nasional.

Melalui keputusan tersebut, pemerintah memberikan pengakuan terhadap peran historis pesantren dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Hari Santri diperingati secara nasional setiap tahun, tetapi tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Makna Hari Santri Nasional bagi Generasi Muda

Seiring perkembangan zaman, makna Hari Santri tidak lagi terbatas pada perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan.

Peringatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Santri masa kini memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan generasi terdahulu.

Jika pada masa perjuangan kemerdekaan para santri turut menghadapi penjajahan secara langsung, generasi sekarang dituntut mampu menghadapi tantangan perkembangan teknologi, pendidikan, ekonomi, dan perubahan sosial.

Nilai kedisiplinan, kesederhanaan, kemandirian, toleransi, serta kepedulian sosial yang diajarkan di lingkungan pesantren menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan tersebut.

Pondok pesantren juga diharapkan terus melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan agama, wawasan kebangsaan, dan kemampuan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.

Hari Santri Nasional 2026, Momentum Meneladani Semangat Perjuangan

Peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026 menjadi momentum untuk kembali mengenang jasa para ulama dan santri yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Lebih dari delapan dekade setelah Resolusi Jihad 1945, nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu tetap relevan bagi kehidupan masyarakat.

Semangat persatuan, pengabdian, keberanian, dan cinta tanah air menjadi nilai penting yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.

Hari Santri juga menjadi pengingat bahwa kontribusi terhadap bangsa dapat dilakukan melalui berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, hingga kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan memahami sejarah Hari Santri Nasional, masyarakat diharapkan semakin menghargai peran ulama dan pesantren dalam membangun Indonesia.

Peringatan 22 Oktober bukan hanya mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga mengajak seluruh generasi untuk melanjutkan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *