mediasulsel.id, Makassar, Sabtu, 27/06/2026 — SMPN 49 Makassar mematangkan persiapan menuju Sekolah Adiwiyata Nasional melalui pembenahan lingkungan, penguatan pengelolaan sampah, pengolahan kompos, serta perawatan Green House dan Tanaman Obat Sekolah.
Persiapan ini dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik.
Program Adiwiyata Nasional merupakan program yang mendorong sekolah membangun budaya peduli lingkungan melalui kebiasaan bersih, sehat, hemat sumber daya, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
SMPN 49 Makassar Perkuat Budaya Peduli Lingkungan
UPT SPF SMPN 49 Makassar terus melakukan pembenahan menyeluruh di lingkungan sekolah sebagai bagian dari kesiapan menghadapi penilaian Program Adiwiyata Nasional.
Sekolah menata kembali sejumlah sarana pendukung agar lebih ramah lingkungan dan mudah digunakan oleh peserta didik dalam kegiatan sehari-hari.
Pembenahan tersebut mencakup tempat pemilahan sampah, tempat sampah khusus botol plastik, area pengolahan sampah organik, Green House, hingga Tanaman Obat Sekolah atau TOSA.
Seluruh kegiatan diarahkan agar peserta didik tidak hanya memahami pentingnya kebersihan lingkungan secara teori, tetapi juga terbiasa menjalankannya melalui praktik langsung.
Berdasarkan keterangan sekolah, persiapan menuju Adiwiyata Nasional tidak hanya berfokus pada penilaian administratif, tetapi juga pada perubahan perilaku warga sekolah.
Budaya memilah sampah, menjaga tanaman, mengolah limbah organik, dan merawat fasilitas hijau menjadi bagian dari pembiasaan yang terus diperkuat.
Salah satu inovasi yang dilakukan adalah pembuatan tempat sampah khusus botol plastik.
Fasilitas ini dibuat untuk mendorong siswa memilah sampah sejak dari sumbernya, terutama sampah plastik yang masih sering ditemukan di lingkungan sekolah.
Botol plastik yang terkumpul dapat dipisahkan dari sampah lain sehingga lebih mudah dikelola, didaur ulang, atau dimanfaatkan kembali sesuai kebutuhan sekolah.
Selain itu, sekolah membenahi tempat pemilahan sampah agar pengelolaan menjadi lebih tertata.
Tempat pemilahan tersebut dibagi berdasarkan jenis sampah, mulai dari organik, anorganik, hingga limbah B3.
Limbah B3 merupakan limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun sehingga harus dipisahkan dari sampah biasa.
Pemilahan ini penting agar sampah tidak tercampur dan proses pengolahan menjadi lebih aman, bersih, dan efektif.
Di lingkungan sekolah, kebiasaan sederhana seperti membuang sampah sesuai jenisnya menjadi langkah awal membangun karakter peduli lingkungan.
Melalui cara itu, peserta didik belajar bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang dibuang, tetapi juga perlu dikelola dengan benar.
Pengolahan Sampah, Green House, dan TOSA Jadi Fokus Pembenahan
SMPN 49 Makassar juga mengembangkan TEPA atau Tempat Pengolahan Sampah Organik sebagai pusat pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos.
TEPA menjadi salah satu fasilitas penting karena mampu mengubah sisa bahan organik menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah.
Limbah seperti kulit ubi, kulit pisang, sisa sayuran, sisa makanan, dan bahan organik lain dikumpulkan untuk diolah melalui proses pengomposan.
Proses ini memberi pengalaman langsung kepada peserta didik mengenai cara mengurangi sampah dari sumbernya.
Melalui kegiatan tersebut, siswa juga belajar tentang ekonomi sirkular, yaitu cara memanfaatkan kembali sisa bahan agar tidak berakhir sebagai sampah.
Daun-daun kering dari lingkungan sekolah juga tidak lagi dibiarkan menumpuk atau dibakar.
Daun tersebut dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam komposter untuk menghasilkan pupuk organik.
Pupuk kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di halaman sekolah, Green House, dan area penghijauan lainnya.
Langkah ini membantu sekolah mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus menciptakan siklus pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Pembenahan Green House juga menjadi perhatian penting dalam persiapan menuju Adiwiyata Nasional.
Fasilitas ini dimanfaatkan sebagai tempat budidaya tanaman, pembibitan, dan praktik pembelajaran lingkungan hidup.
Green House menjadi ruang belajar terbuka bagi siswa untuk mengenal teknik perawatan tanaman, proses pembibitan, hingga pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
Dengan adanya fasilitas tersebut, pembelajaran lingkungan tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Siswa dapat melihat langsung proses pertumbuhan tanaman, mengenali kebutuhan tanaman, dan memahami hubungan antara kebersihan, tanah, air, dan udara.
Selain Green House, sekolah juga menata kembali TOSA atau Tanaman Obat Sekolah.
Berbagai tanaman obat disusun agar lebih rapi, mudah dikenali, dan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
Melalui TOSA, peserta didik diperkenalkan pada tanaman herbal yang memiliki manfaat bagi kesehatan.
Pembenahan ini sekaligus menjadi upaya mengenalkan kembali tanaman obat tradisional kepada generasi muda.
Kegiatan persiapan dilakukan secara gotong royong oleh warga sekolah.
Para siswa terlibat dalam pemilahan sampah, pengolahan limbah organik, pembuatan kompos, perawatan tanaman, serta pembersihan lingkungan sekolah.
Guru dan tenaga kependidikan turut mendampingi agar setiap kegiatan berjalan tertib dan menjadi bagian dari pembiasaan sehari-hari.
Keterlibatan warga sekolah menjadi salah satu kunci penting dalam membangun budaya Adiwiyata.
Sekolah yang peduli lingkungan tidak hanya dilihat dari fasilitas yang tersedia, tetapi juga dari kebiasaan warganya dalam menjaga kebersihan dan merawat lingkungan.
Dengan berbagai persiapan tersebut, SMPN 49 Makassar berharap dapat memperkuat posisinya sebagai sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.
Upaya menuju Sekolah Adiwiyata Nasional menjadi momentum untuk membangun lingkungan belajar yang hijau, sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi seluruh peserta didik.





