BeritaHukumKriminalMakassarPeristiwaSulsel

Sopir Truk Ditikam di SPBU Makassar, akibat Monopoli Solar oleh Perusahaan Logistik Alfamart B-LOG

2
×

Sopir Truk Ditikam di SPBU Makassar, akibat Monopoli Solar oleh Perusahaan Logistik Alfamart B-LOG

Sebarkan artikel ini
IMG 20260808 004030
Oplus_16908288

Makassar, Mediasulsel.id – Antrean panjang pengisian BBM bersubsidi kembali memakan korban. Seorang sopir truk, Aswandi (30), warga Dusun Taroada, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, menjadi korban penikaman menggunakan badik di area SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan Kampus Cokroaminoto Makassar, setelah perselisihan antrean solar berubah menjadi aksi kekerasan berdarah.

Korban mengalami luka tikam di bagian dada sebelah kanan bawah dan harus dilarikan ke RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk mendapatkan penanganan medis.

Pelaku diketahui bernama Muh. Hendra alias Dg. Se’re (31), seorang sopir truk asal Buttadidi, Kelurahan Mawang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelaku telah mengantre BBM jenis solar sejak pukul 02.30 WITA. Setelah menunggu sekitar tujuh jam hingga akhirnya mendapat giliran mengisi BBM sekitar pukul 09.44 WITA, situasi mendadak memanas ketika korban masuk ke jalur pengisian yang seharusnya menjadi giliran pelaku.

Korban disebut beralasan hendak mengisi Solar Dex. Namun, saat diminta memindahkan kendaraannya, korban justru tetap memajukan truknya ke depan pompa pengisian jalur kendaraan besar.

Perdebatan pun tak terhindarkan.
Diduga tak mampu mengendalikan emosi, pelaku kembali menghampiri korban, kemudian mencabut sebilah badik dan langsung menusukkan senjata tajam tersebut sebanyak dua kali ke arah tubuh korban.

Satu tikaman menghujam dada kanan bawah korban, sementara satu tikaman lainnya berhasil ditepis sehingga tidak mengenai sasaran.

Usai melakukan penikaman, pelaku langsung melarikan diri meninggalkan lokasi.

Petugas keamanan SPBU, Hermawan (33), mengaku mendengar teriakan warga sesaat setelah penikaman terjadi.

“Saya sedang memantau antrean pengisian solar. Tiba-tiba ada yang berteriak kalau ada orang ditikam. Saat saya mendatangi lokasi, korban sudah memegang dadanya karena terkena tikaman. Saya sempat mengejar mobil pelaku sampai ke tengah jalan dan meminta pelaku berhenti, kemudian saya membawa korban ke RS Wahidin,” ujar Hermawan.

Kesaksian serupa disampaikan karyawan SPBU, Nur Aisya Said (31).

Ia mengaku melihat langsung pertengkaran antara kedua sopir sebelum aksi penikaman terjadi.

“Saya sementara akan mengisi BBM kendaraan korban. Sebelumnya saya melihat pelaku dan korban sudah bercekcok di area SPBU. Tidak lama kemudian pelaku mendatangi korban dan langsung melakukan penikaman,” katanya.

Peristiwa berdarah ini kembali menyoroti semrawutnya antrean BBM bersubsidi yang kerap memicu konflik antarsopir di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan.

Menariknya, seusai kejadian, sejumlah sopir truk yang berada di lokasi mengaku mengenali terduga pelaku sebagai pekerja pada perusahaan jasa logistik B-LOG.

Mereka juga menduga perusahaan tersebut merupakan anak perusahaan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk yang biasa dikenal dengan ALFA MART dan mengklaim armada logistik tersebut memperoleh prioritas pengisian solar sehingga diduga menguasai kuota BBM tertentu di Sulawesi Selatan.

Namun hingga berita ini diterbitkan, klaim tersebut belum dapat diverifikasi dan belum ada keterangan resmi dari pihak B-LOG maupun PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk yg dikenalan dengan Alfa Mart Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari kedua pihak guna memenuhi asas keberimbangan pemberitaan.

Sementara itu, aparat kepolisian kini memburu pelaku yang melarikan diri usai penikaman. Polisi juga didorong mengusut tuntas motif pelaku, sekaligus mendalami seluruh informasi yang berkembang di lapangan, termasuk dugaan adanya praktik-praktik yang memicu ketegangan dalam antrean BBM bersubsidi.

Peristiwa ini menjadi alarm serius bagi aparat penegak hukum dan instansi terkait. Antrean solar yang seharusnya berlangsung tertib justru kembali berubah menjadi lokasi pertumpahan darah. Pengawasan terhadap distribusi BBM bersubsidi serta ketegasan terhadap pelaku kekerasan dinilai menjadi langkah mendesak agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *