mediasulsel.id, Rantauprapat — Bangunan baru Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/Kopdeskel Merah Putih) di kawasan Aek Tapa, Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, menjadi sorotan setelah terendam banjir.
Genangan air berwarna kecokelatan terlihat mengepung bangunan hingga masuk ke area gerai setelah hujan deras mengguyur Rantauprapat pada Sabtu (24/10/2026) sore hingga malam.
Kondisi tersebut ramai diperbincangkan karena gedung dilaporkan baru selesai dibangun dan belum difungsikan. Lokasinya berada di kawasan dataran rendah yang selama ini dikenal rawan genangan ketika hujan berintensitas tinggi.
Bangunan Belum Difungsikan
Kepala Lingkungan Aek Tapa B, Ahmad Nazri, menyebut banjir terjadi akibat curah hujan tinggi yang membuat sejumlah kawasan di Rantauprapat terendam.
“Kondisi gerai ini kosong, belum ada isinya. Diduga tidak ada drainase pembuangan air,” ujar Ahmad Nazri.
Selain Kopdes Merah Putih, banjir juga dilaporkan merendam sejumlah titik permukiman dan fasilitas di Rantauprapat.
Air yang menggenangi bangunan kemudian ditangani dengan penyedotan. Personel TNI dari Kodim 0209/Labuhanbatu bersama unsur terkait dilaporkan turun membantu mengurangi genangan di sekitar lokasi.
Warganet Soroti Pemilihan Lokasi
Potret gedung baru yang dikelilingi banjir memicu beragam komentar warganet. Sejumlah netizen mempertanyakan perencanaan lokasi, elevasi bangunan, hingga kesiapan saluran pembuangan air sebelum fasilitas tersebut dibangun.
Salah satu warganet bahkan menulis singkat, “azab kopdes” disertai emoji menangis. Nama akun disamarkan karena komentar tersebut merupakan pendapat pribadi di media sosial, bukan kesimpulan mengenai penyebab banjir.
Warganet lain juga menyoroti kondisi bangunan yang belum beroperasi tetapi sudah terdampak genangan. Kritik publik terutama mengarah pada pentingnya kajian tapak dan mitigasi banjir untuk fasilitas yang dibangun menggunakan anggaran publik.
Perencanaan Drainase Jadi Sorotan
Peristiwa ini menegaskan pentingnya pemeriksaan kondisi lahan sebelum pembangunan fasilitas publik, mulai dari elevasi tapak, riwayat banjir, kapasitas drainase, hingga arah aliran air saat hujan ekstrem.
Bangunan yang berada di kawasan rendah membutuhkan sistem drainase dan perlindungan elevasi yang memadai agar fungsi pelayanan publik tidak terganggu ketika musim hujan.
Warga di sekitar Rantauprapat juga diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan apabila hujan deras kembali terjadi.
(MS/Red)













