ArtikelKesehatanMakassarPendidikanSulsel

Dari Luka Menuju Harapan, 15 Anak Korban Kekerasan di Pattingalloang Ditemani Lewat Goodnight, My Angel

4
×

Dari Luka Menuju Harapan, 15 Anak Korban Kekerasan di Pattingalloang Ditemani Lewat Goodnight, My Angel

Sebarkan artikel ini
IMG 20260817 163011
Oplus_16908288

Makassar, Mediasulsel.id — Sebuah pelukan, ungkapan kasih sayang, dan senyum anak-anak menjadi penanda berakhirnya rangkaian program Goodnight, My Angel di Komunitas Fatimah Az-Zahra, Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar.

Namun, penutupan program yang digagas mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) itu bukan sekadar akhir kegiatan.

Di balik momen tersebut, tersimpan perjalanan 15 anak korban kekerasan berusia 10–12 tahun yang selama 18 kali pertemuan mendapatkan pendampingan untuk kembali menemukan rasa aman, mengenali keberhargaan diri, dan berani menatap masa depan.

Program Goodnight, My Angel menggunakan pendekatan Community-Based Psychosocial Support (CBPS) dengan lima dimensi The Angel’s Flight.

Pendekatan tersebut menempatkan anak bukan hanya sebagai penerima pendampingan, tetapi sebagai individu yang perlu didengar, dihargai, dan diberikan ruang untuk berkembang.

Penutupan yang Penuh Haru;

Pertemuan terakhir pada 9 Agustus 2026 dikemas berbeda. Anak-anak bersama orang tua atau pendamping diajak melihat kembali perjalanan mereka selama mengikuti program.

Kilas balik kegiatan kemudian berlanjut pada sesi yang menyentuh emosi, yakni ketika anak dan orang tua diberikan kesempatan untuk saling menyampaikan perasaan.

Pelukan menjadi salah satu momen yang paling mengesankan;

Di tengah proses pemulihan, momen tersebut menjadi simbol bahwa anak tidak berjalan sendirian. Ada keluarga dan lingkungan yang diharapkan dapat menjadi tempat aman bagi mereka untuk pulang, bercerita, dan mendapatkan dukungan.

“Pemulihan anak membutuhkan lingkungan yang hadir secara konsisten. Membangun kembali rasa aman bukan pekerjaan satu malam, melainkan perjalanan yang membutuhkan dukungan bersama.”

Pesan itu menjadi salah satu semangat utama yang dibawa tim dalam menutup rangkaian intervensi.

Anak Tak Hanya Didampingi, Tapi Diberi Ruang Bersinar;

Kegiatan penutup juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menunjukkan keberanian mereka melalui penampilan seni.

Di hadapan orang tua dan lingkungan terdekat, anak-anak tampil dan mengekspresikan diri.

Ruang tersebut menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan diri sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan tidak boleh merampas kesempatan anak untuk tumbuh, berkarya, dan memiliki mimpi.

Tak hanya menyasar anak dan keluarga, tim juga membawa pesan perlindungan anak ke lingkungan masyarakat.

Edukasi dilakukan melalui penyebaran flyer di sejumlah titik strategis. Materi tersebut dilengkapi barcode yang mengarahkan masyarakat menuju video edukasi tentang kekerasan terhadap anak serta informasi mengenai program Goodnight, My Angel.

Program Berakhir, Pendampingan Tak Boleh Berhenti;

Berakhirnya 18 kali pertemuan bukan berarti perhatian terhadap anak-anak tersebut ikut berakhir.

Tim telah menyiapkan konsep keberlanjutan melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan komunitas.

Komunitas Fatimah Az-Zahra diharapkan tetap menjadi ruang pendampingan bagi anak. Sementara itu, The Angel Squad diproyeksikan sebagai kelompok dukungan sebaya yang dapat menjadi tempat anak berbagi cerita, saling mendengarkan, dan menguatkan.

Dengan demikian, Goodnight, My Angel tidak sekadar meninggalkan dokumentasi kegiatan, tetapi berupaya meninggalkan ekosistem dukungan yang dapat terus hidup di tengah komunitas.

“Goodnight, My Angel! bukan hanya tentang 18 kali pertemuan. Ini tentang bagaimana anak-anak kembali percaya bahwa mereka berharga, bahwa mereka aman, dan bahwa mereka masih memiliki masa depan.”

Berawal dari Komunitas, Berujung pada Harapan;

Program Goodnight, My Angel dilaksanakan oleh tim mahasiswa Unhas yang terdiri dari Mutammim Sudirman, Nurfadillah, Adibah Binti Syahdar, Ade Putra Langi Parebong, dan Mulawarman Pahlevi, di bawah bimbingan Prof. Dr. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si., IPU.

Program ini menyasar 15 anak korban kekerasan berusia 10–12 tahun melalui pendekatan Community-Based Psychosocial Support dengan lima dimensi The Angel’s Flight.

Dari Pattingalloang, program tersebut membawa satu pesan penting: anak korban kekerasan tidak cukup hanya diselamatkan dari situasi yang menyakitkan, tetapi juga perlu ditemani untuk kembali percaya pada dirinya sendiri.

Sebab, luka mungkin menjadi bagian dari masa lalu.Tetapi dengan keluarga, komunitas, dan lingkungan yang terus hadir, harapan tetap bisa menjadi bagian dari masa depan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *