mediasulsel.id – MAKASSAR — Kepala SMP Negeri 22 Makassar, Salma, angkat bicara terkait polemik penerimaan peserta didik baru yang menyebabkan sejumlah siswa tidak terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Salma menilai, intervensi dari berbagai pihak menjadi salah satu faktor utama munculnya persoalan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa setiap tahun ajaran baru, pihak sekolah kerap mendapat tekanan untuk menerima siswa titipan yang tidak lolos melalui jalur resmi Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
“Setiap penerimaan siswa baru selalu ada intervensi dan tekanan kepada kepala sekolah untuk menerima siswa titipan, padahal mereka tidak melalui jalur SPMB,” ujarnya.
Menurutnya, praktik titip-menitip ini berdampak langsung pada administrasi sekolah, khususnya saat proses penginputan data ke sistem Dapodik milik Kementerian Pendidikan.
“Kami di sekolah hanya menerima titipan, tetapi tidak bisa menjamin apakah siswa tersebut dapat masuk dalam sistem Dapodik atau tidak,” tegasnya.
Salma juga menyebut intervensi tidak hanya datang dari oknum anggota dewan, tetapi juga dari sejumlah pihak lain seperti LSM, organisasi masyarakat (ormas), hingga oknum wartawan yang kerap memaksakan kehendak agar siswa yang direkomendasikan tetap diterima.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah siswa berisiko tidak tercatat secara resmi dalam sistem pendidikan nasional. Padahal, Dapodik merupakan basis data utama yang menentukan berbagai hak siswa, termasuk bantuan pendidikan dan status administratif sebagai peserta didik.
Ia berharap ke depan proses penerimaan siswa baru dapat berjalan sesuai aturan tanpa adanya intervensi dari pihak mana pun, sehingga tidak ada lagi siswa yang dirugikan akibat persoalan administrasi.













