mediasulsel.id – MAKASSAR – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar (BEM FEB Unismuh Makassar) menyoroti krisis literasi dan semakin minimnya ruang dialog intelektual di kalangan mahasiswa.
Sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual di lingkungan kampus, BEM FEB Unismuh Makassar periode 2025–2026 menggelar forum dialog pada 15 Juni 2026 dengan menghadirkan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) 2025, Tiyo, serta Direktur Institut Politik Indonesia, Asratillah, S.T., M.T.
Ketua Bidang Keilmuan BEM FEB Unismuh Makassar, Muh Khaidir Ramadhan, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi merupakan ikhtiar untuk mengembalikan kampus sebagai pusat produksi gagasan dan ruang pembentukan kesadaran kritis mahasiswa.
“Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar tidak lahir dari ruang yang sunyi, melainkan dari perdebatan gagasan dan keberanian kaum muda untuk berpikir melampaui zamannya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, berbagai indikator menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Di sisi lain, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kapasitas intelektual generasi muda.
BEM FEB Unismuh Makassar menilai tantangan terbesar mahasiswa saat ini bukan hanya persoalan lapangan kerja maupun transformasi digital. Lebih dari itu, mahasiswa dihadapkan pada krisis intelektualitas yang ditandai rendahnya minat baca, dominasi budaya instan, serta kecenderungan pragmatisme yang menjauhkan mahasiswa dari fungsi historisnya sebagai kekuatan moral dan kontrol sosial.

Lihat Juga: Niat Puasa Ramadan: Sekali atau Setiap Malam? Ini Penjelasan Menag Prof. Nasaruddin Umar
“Ketika ruang-ruang diskusi mulai sepi, budaya membaca semakin tergerus oleh arus informasi yang dangkal, dan kampus kehilangan daya kritisnya, maka bangsa ini sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih serius daripada sekadar perlambatan ekonomi,” kata Khaidir.
Melalui forum tersebut, BEM FEB Unismuh Makassar menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan tradisi intelektual sebagai fondasi dalam menjawab tantangan zaman.
“Ketika sebagian memilih nyaman dalam keheningan, mahasiswa harus berani berdiri di garis depan peradaban. Sebab sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang diam, melainkan oleh mereka yang berani melahirkan gagasan,” tutupnya.










